KEWIBAWAAN DALAM PENDIDIKAN


A. Pengertian Kewibawaan
Kewibawaan berasal dari kata zaggen yang berarti “berkata” siapa yang perkataanya mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain, berarti mempunyai kewibawaan atau gejag terhadap orang lain, jadi kewibawaan (gejag) adalah suatu daya mempengaruhi yang terhadap pada seseorang secara sadar dan sukarela akan menjadi tunduk dan patuh kepadanya.
Kewibawaan dalam pendidikan merupakan pengakuan dan penerimaan secara sukarela terhadap pengaruh atau anjuran yang datang dari orang lain, jadi pengakuan, penerimaan dan pengaruh atau anjuran itu adalah atas dasar keikhlasan, kepercayaan yang penuh, bukan didasarkan rasa terpaksa serta rasa takut akan sesuatu. Kewibawaan dikatakan sebagai syarat mutlak dalam pelaksanaan pendidikan kerena kewibawaan merupakan syrat yang tidak boleh ditawar lagi dan syarat yang tidak boleh tidak ada.

 B. Kewibawaan Orang Tua (ayah dan ibu)
       1. Kewibawaan Pendidik
            Dengan kewibawaan ini orang tua bertujuan memelihara keselamatan anak-anaknya agar mereka dapat hidup terus dan selanjutnya berkembang jasmani dan rohaninya manjadi manusia dewasa. Adapun nasihat-nasihat yang diminta atau yang diterimanya dari orang tua meskipun orang yang meminta atau yang menerima nasihat itu sudah dewasa, itu baik juga dan banyak juga yang dituruti, tetapi hal itu hendaknya timbul dari hati yang tulus ikhlas tidak karena suatu keharusan.
 2. Kewibawaan Keluarga
            Orang tua merupakan kepala dari suatu keluarga, tiap-tiap keluarga merupakan “masyarakat kecil” yang sudah tentu dalam masyarakat itu harus ada peraturan-peraturan yang harus dipatuhi dan dijalankan. Tiap-tiap anggota keluarga harus patuh terhadap peraturan-peraturan yang berlaku dalam keluarga itu. Dengan demikian orang tua sebagai kepala keluarga dan dalam hubungan kekeluargaan itu mempunyai wibawa terhadap anggota-anggota keluarga.

 C. Kewibawaan Pendidik dan Pendidik-Pendidik Lainnya
      1).  Kewibawaan Pendidik
Kewibawaan ini sama halnya dengan kewibawaan pendidikan yang ada pada orang tua, guru, atau pendidik karena jabatan atau berkenan dengan jabatannya sebagai pendidik, telah diserahi sebagian dari tugas orang tua untuk mendidik anak-anak. Selain itu guru atau pendidik karena jabatan menerima kewibawaannya sebagian lagi dari pemerintah yang mengangkat mereka. Kewibawaan pendidik yang ada pada guru itu terbatas oleh banyaknya anak-anak yang diserahkan kepadanya, dan setiap tahun berganti murid.
2).  Kewibawaan memerintah
Selain memiliki kewibawaan pendidikan guru atau pendidik karena jabatan juga mempunyai kewibawaan memerintah mereka telah memberi kekuasaan (gezag) oleh pemerintah atau instansi yang mengangkat mereka. Kekuasaan tersebut meliputi pimpinan kelas, disanalah anak-anak telah diserahkan kepadanya. Bagi kepada sekolah kewibawaan ini lebih luas, meliputi pimpinan sekolahnya.

 D. Faktor-Faktor Kewibawaan yang Harus Digunakan Oleh Pendidik
1).  Dalam menggunakan kewibawaannya itu hendaklah di dasarkan atas perkembangan anak itu sendiri sebagai pribadi, pendidik hendaklah mengabadi kepada pertumbuhan anak-anak yang belum selesai perkembangannya. Dengan kebijaksanaan pendidik hendaklah anak dibawa kearah kesanggupan memakai tenaganya dan pembawaannya yang tepat, jadi wibawa pendidikan itu bukanlah bertugas memerintah melainkan mengamati serta memperhatikan serta menyesuaikannya pada perkembangan dan kepribadian masing-masing anak.
2).  Pendidik hendaklah memberi kesempatan kepada anak untuk bertindak atas inisiatif sendiri. Kesempatan atau keleluasaan hendaklah makin lama makin diperluas sesuai dengan perkembangan dan bertambahnya umur anak. Anak harus diberi kesempatan cukup untuk melatih diri bersikap patuh, karena sianak dapat bersikap tidak patuh. Jadi, dengan wibawa itu pendidik berangsur-angsur mengundurkan diri sehingga akhirnya tidak diperlukan lagi. Mendidik anak berarti mendidik untuk dapat berdiri sendiri.
3).  Pendidik hendaknya menjalankan kewajibannya itu atas dasar cinta kepada si anak. Ini berarti bermaksud hendak berbuat sesuatu untuk kepentingan sianak. Jadi, bukannya memerintah atau melarang untuk kepentingannya sendiri. Cinta itu perlu bagi pekerjaan mendidik. Sebab dari cinta atau kasih sayang itulah timbul kesanggupan selalu bersedia berkorban untuk sang anak, selalu memperlihatkan kebahagiaan anak yang sejati.

Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar