A. Makna pendidikan
Secara sederhana dapat diartikan sebagai
usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai yang ada
di dalam masyarakat dan kebudayaannya. Pendidikan didefinisikan dalam arti luas
dan arti sempit, Robandi (2005: 4) menjelaskan bahwa, ”Dalam arti luas hidup
adalah pendidikan, dan pendidikan adalah hidup (life is education, education
is life)”. Ungkapan tersebut mengandung pengertian bahwa pendidikan
merupakan segala pengalaman hidup yang memiliki kontribusi terhadap pertumbuhan
dan perkembangan hidup individu serta berlangsung sepanjang hayat.
B. Beberapa Pendekatan Pendidikan, yaitu:
1. Pendekatan Pedagogisme
Titik tolak dari teori ini ialah anak yang
akan di besarkan menjadi manusia dewasa. Pandangan ini apakah berupa pandangan
nativisme schopenhouer serta menganut penganutnya yang beranggapan bahwa anak
telah mempunyai kemampuan-kemampuan yang dilahirkan dan tinggal di kembangkan saja.
2. Pendekatan Filosofis
Anak manusia mempunyai hakikatnya sendiri dan
berada dengan hakikat orang dewasa. Oleh sebab itu, proses pendewasaan anak
bertitik-tolak dari anak sebagai anak manusia yang mempunyai tingkat-tingkat
perkembangan sendiri.
3. Pendekatan Religius
Pendekatan religius / religionisme dianut oleh
pemikir-pemikir yang melihat hakikat manusia sebagai makhluk yang religius.
Namun demikian kemajuan ilmu pengetahuan yang sekuler tidak menjawab terhadap
kehidupan yang bermoral.
4. Pendekatan Psikologis.
Pandangan-pandangan pedagogisme seperti yang
telah diuraikan telah lebih memacu masuknya psikologi ke dalam bidang ilmu
pendidikan hal tersebut telah mempersempit pandangan para pendidik seakan-akan
ilmu pendidikan terbatas kepada ilmu mengajar saja.
5. Pendekatan Negativis.
Pendidikan ialah menjaga pertumbuhan anak.
Dengan demikian pandangan negativisme ini melihat bahwa segala sesuatu
seakan-akan telah tersedia di dalam diri anak yang bertumbuh dengan baik
apabila tidak dipengaruhi oleh hal-hal yang merugikan pertumbuhan tersebut.
6. Pendekatan Sosiologis.
Pandangan sosiologisme cenderung berlawanan
arah dengan pedagogisme. Titik-tolak dari pandangan ini ialah prioritas kepada
kebutuhan masyarakat dan bukan kepada kebutuhan individu. Peserta didik adalah anggota masyarakat. Dalam
sejarah perkembangan manusia kita lihat bahwa tuntutan masyarakat tidak selalu
etis. Versi yang lain dari pandangan ini ialah develop mentalisme. Proses
pendidikan diarahkan kepada pencapaian target-target tersebut dan tidak jarang
nilai-nilai kemanusiaan disubordinasikan untuk mencapai target pembangunan.
Pengalaman pembangunan Indonesia selama Orde Baru telah mengarah kepada paham
developmentalisme yang menekan kepada pencapaian pertumbuhan yang tinggi,
target pemberantasan buta huruf, target pelaksanaan wajib belajar 9 dan 12
tahun.Salah satu pandangan sosiologisme yang sangat populer adalah
konsiensialisme yang dikumandangkan oleh ahli pikir pendidikan Ferkenal Paulo
Freire.
Pendidikan yang dikumandangkan oleh Freire ini
yang juga dikenal sebagai pendidikan pembebasan pendidikan adalah proses
pembebasan. Konsiensialisme yang dikumandangkan Freire merupakan suatu
pandangan pendidikan yang sangat mempunyai kadar politis karena dihubungkan
dengan situasi kehidupan politik terutama di negara-negara Amerika Latin. Paulo
Freire di dalam pendidikan pembebasan melihat fungsi atau hakikat pendidikan
sebagai pembebasan manusia dari berbagai penindasan. Sekolah adalah lembaga
sosial yang pada umumnya mempresentasi kekuatan-kekuatan sosial politik yang
ada agar menjaga status quo hukum membebaskan manusia dari tirani kekuasaan.
Qua atau di dalam istilah Polo Freire. “kapitalisme yang licik”. Sekolah harus
berfungsi membangkitkan kesadaran bahwa manusia adalah bebas.
7. Pendekatan Holistik Integratif
Pendekatan-pendekatan reduksionisme melihat
proses pendidikan peserta didik dan keseluruhan termasuk lembaga-lembaga
pendidikan, menampilkan pandangan ontologis maupun metafisis tertentu mengenai
hakikat pendidikan. Teori-teori tersebut satu persatu sifatnya mungkin mendalam
secara Vertikal namun tidak melebar secara horizontal.
Peserta didik, anak manusia, tidak hidup
secara terisolasi tetapi dia hidup dan berkembang di dalam suatu masyarakat
tertentu, yang berbudaya, yang mempunyai visi terhadap kehidupan di masa depan,
termasuk kehidupan pasca kehidupan.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar